Kamis, 18 September 2014
Pantai Siring Kemuning
Rabu, 17 September 2014
Manisnya Mencicipi Bermain PS1
Sekarang saya memiliki PS2 dan ada game Harvestmoon nya juga namun game Harvestmoon di PS2 ini tidak seseru dan semenantang seperti pendahulunya, walaupun grafisnya sangat jauh lebih bagus, namun itu membutuhkan pengorbanan karena di PS2 ini Harvestmoon seperti kehilangan Daya tarik sendiri walaupun game ini tetap seru. game memang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan saya, namun seiring bertambahnya umur saya mengurangi jatah bermain game saya karena sekolah saya semakin tinggi dan saya harus lebih serius terhadap pendidikan.
BERMAIN GAME BOLEH-BOLEH SAJA UNTUK SEKEDAR REFRESHING DAN MENGHAPUS KEJENUHAN, NAMUN JANGAN PERNAH MENJADIKAN GAME SEBUAH HOBI DAN KEWAJIBAN UNTUK DIMAINKAN SETIAP HARINYA!
Senin, 15 September 2014
Mercusuar
woohoo kali ini saya akan menceritakan Mercusuar yang terletak di desa Ujung Piring Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan ini merupakan mercusuar yang sudah tidak difungsikan lagi, karena pelabuhan yang dulunya berada di desa ini sudah ditutup. Sekarang mercusuar ini dijadikan objek wisata. Pemandangan serta pantai di sekitar mercusuar Bangkalan sangat indah, tidak heran mercusuar ini sangat terkenal di Kabupaten Bangkalan Madura, Jawa Timur, Indonesia.
saya pernah pergi ketempat ini bersama temann-taman sekelas. waktu itu pada saat UTS di sekolah saya, saya dan teman-teman punya rencana untuk pergi ke tempat ini untuk sekedar jalan-jalan dan refreshing karena otak bekerja terus selama beberapa hari ini, kebetulan juga waktu itu pulang agak lebih awal karena UTS kali ini hanya 1. saya dan teman-teman langsung berangkat dari sekolah ke Mercusuar menggunakan sepeda masing-masing, ada juga yang boncengan karena gak punya sepeda.
sesampainya disana kami membayar Uang masuk dulu sebesar Rp.2000, sedangkan saya Rp.3000 karena gak ada kembaliannya. kemudian kami membayar uang masuk ke mercusuar, dan yang tak disangka-sangka kami mendapat potongan harga, kami mulai masuk ke Mercsuar, naik beberapa tangga sambil berfoto ria. kami harus menaiki beberapa lantai untuk mencapai puncaknya. belum sampai di puncak saya merasa lelah, namun itu semua terbayarkan ketika saya mencapai puncaknya.
Disini terasa angin yang sepoy-sepoy sungguh membuat saya melupakan rasa lelah saya menaiki beberapa anak tangga dan menggantikannya dengan kenikmatan pemandangan yang sangat indah. disini kami sempat mengambil beberapa foto, untuk kami abadikan dan kenang-kenangan. angin yang sejuk membuat saya dan teman-teman betah berlama-lama disini, namun kerana hari sudah mulai siang kami memutuskan untuk kembali turun dari puncak mercusuar ini.
kami turun dari lantai yang lebih tinggi ke lantai yang lebih rendah, beberapa lantai kami lalui dan akhirnya kami sampai juga dibawah. Setibanya di bawah kami tak lantas langsung pulang, disini kami masih sempat-sempatnya berfoto-foto lagi (dasar Narsis). setelah itu kami pulang bersama-sama dan mulai berpisah di jalan raya karena arah jalan rumah kami berbeda-beda. Ini perjalanan yang menyenangkan bagiku. inilah cerita wilayah madura. semoga bermanfaat semua untuk para pembaca.
Minggu, 14 September 2014
Pertama Kali Bermain COC (Clash Of Clans)
Clash Of Clans atau COC adalah game strategi yang pada awalnya hanya untuk OS symbian tetapi seiring dengan bertambahnya pengguna dan penggemar yang memainkan game ini. Akhirnya COC dapat dimainkan di OS Android. Game ini bercerita tentang bagaimana kita membangun strategi menyerang dan menyusun sebuah desa yang kuat.
Pada awalnya saya tidak tertarik sama sekali dengan game ini karena belum mengerti betul permainan itu. Akhirnya setelah saya melihat teman saya yang asik memainkan game ini, saya tertarik dan mencoba untuk memainkannya. Di awal membuka game ini saya disuruh memberi nama pada desa saya di coc ini.
Di awal permainan Clash Of Clans saya di beri sebuah town hall (rumah) kecil (level 1), 1 army camp dengab kapasitas 25 troops atau tentara. Gold dan elixir storage untuk menyimpan loot(sejenis uang dalam game ini) 1 cannon, 1 archer tower dan barrack tempat untuk membuat troops atau tentara, awalnya hanya membuat 2 jenis troops tapi jika di upgrade ke level yang lebih tinggi maka pilihan atau jenis troops nya akan bertambah.
Saya membuat barbar dan archer untuk menyerang desa lain. Dan saya pun berhasil menang pada percobaan pertama karena itulah saya semakin penasaran dengan game ini dan mulai suka. Memang pada awalnya cukup gampang memainkan game ini karena musuh musuhnya mudah untuk dikalahkan.
Namun seiring waktu, semakin banyaknya trophy yang dimenangkan dan semakin di upgrade nya town hall dan yang lain ke level yang lebih tinggi, musuh yang saya hadapi semakin kuat dan sulit untuk dikalahkan. Saya harus semakin pintar menyusun strategi menyerang dan bertahan. Sampai saat ini townhall saya masih di level 7 dan saya bergabung di sebuah clan indo yaitu clan Anak Bangsa.
Senin, 08 September 2014
Kisah Si Sutisna
Suatu hari Sutisna melewati sekolah SMP, sekolah yang diinginkan oleh Sutisna, dia melihat teman-temannya dengan asik bercanda, dan dia pun termenung sambil (membanyangkan kapan saya bisa masuk ke sekolah itu), tak lama kemudian teman-temannya datang menghampiri dia (Sutisna) dan berkata “Sutisna kapan kamu sekolah, masa yang lain sekolah kamu jadi penggembala kerbau”, sambil ketawa sih temannya, dengan sedihnya sih Sutisna pergi, dan tak mengihiraukan ocehan temannya, tapi dia masih terbayang oleh ocehan temannya.
Keesokan harinya si Sutisna, bertanya pada bapaknya
“pak?.. Sutisna, mau sekolah lagi”.
“sekolah dari mana uangnya ntis, sedangkan buat makan kita masih susah”
“tapi Sutisna mau sekolah kaya temen-temen”,
“sedangkan adik kamu ajah masih kecil-kecil”.
“iya, tapi Sutisna mau sekolah pak, Sutisna malu dikatain sama temen-teman kapan sekolah dan Cuma jadi pengembala kerbau”.
“sudah jangan dengerin temen-temen kamu”,
“pokoknya Sutisna mau sekolah kaya temen-temen”.
Bapak sontak marah, “kamu susah dibilangin” sambil lempar gelas ke tanah
Sutisna serontak pergi meninggalkan rumah
Si Sutisna mengadu pada temannya si kerbau
“kerbau, apa aku salah, jika aku minta sekolah lagi”
“ngoooooo”
“aku ingin kaya temen-temen bisa sekolah”
“ngooooooooo”
Sambil dia tiduran di atas kerbau, tak terasa dia bangun dan terkejut hari sudah sore, dia ingat harus memberi makan ternaknya.
Akhirnya dia pulang dan sesampai di rumah, dia diam-diam masuk rumah, dan memberi makan ternaknya, tiba-tiba bapaknya datang dan sambil ngomong.
“dari mana kamu ntis?”,
Sutisna serontak kaget, sambil bilang, “haah, habis dari ladang pak sama si kerbau”.
“sudah sana mandi, terus makan”.
Sutisna yang tadinya ketakutan. Akhirnya cepat-cepat pergi mandi.
Malamnya si Sutisna di kamar, sambil pegang buku, dia berkata, “ya tuhan kapan saya bisa sekolah lagi tuhan, Sutisna mau jadi anak pinter tuhan”, dia menatap langit langit atap rumah yang masih bisa lihat bintang dari kamarnya, tak disengaja bapaknya dengar dan dia langsung ke kamar Sutisna sambil dia lihat anaknya, di depan pintu yang terbuka sedikit, dia termenung dengan kesedihan dan kekosongan dalam pikiranya, dan dalam pikirannya “ya tuhan semoga saya bisa menyekolahkan anak saya”.
Minggu, 07 September 2014
Darah dalam Novel
“Ini, Non, kopinya,” kata Bibi Mia.
Aku terheran-heran. Sejak kapan aku suka ngopi dan kapan aku memesannya? Belum sempat protes, seorang tukang pos berhenti di depan pagar rumahku. Memencet bel dan memaksaku bangun dan menghampirinya. Saat aku sampai di sana, tukang pos itu menghilang tanpa jejak. Aku kembali terheran-heran. Aku mengamati sekelilingku tapi aku tak menemukan apapun.
Dengan kesal, kulangkahkan kaki memasuki halaman rumah. Dan kudapati sepiring nasi goreng di atas meja di teras.
“Tampaknya Bibi Mia sedang hank.” Kataku lalu masuk ke dalam, menuju lantai 2 tempat kamarku berada. Kubuka pintu kamar namun ada sesuatu yang aneh, pintunya terkunci! Lagi-lagi aku terheran-heran. Jelas-jelas tadi pagi pintu kubiarkan terbuka. Lalu aku pergi ke dapur untuk mengambil kunci serep. Aku mencium bau darah segar dan sedikit amis saat masuk ke dapur. Aku mengira Bibi Mia barusan memotong ikan atau daging dan lupa membersihkan sisa-sisanya. Ya… aku tak memikirkan soal itu lagi. Kuambil kunci serep kamar yang tergantung di dinding di samping kulkas.
Saat aku berjalan menaiki tangga, kudengar jeritan seseorang dari arah kamarku. Sontak aku berlarian ke sana. Cepat-cepat kumasukkan kunci ke lubang pintu namun pintu kamar tidak kunjung terbuka.
“Astaga! Aku salah mengambil kunci!”
Kini terdengar seseorang mengedor-ngedor pintu itu dengan keras.
“Non… non… bangun, Non! Sudah jam setengah tujuh. Nanti Non terlambat!”
WAAAA… aku terperanjat bangun lalu berlarian membuka pintu kamar.
“Bik, hari ini aku libur!!”
-00-
Aku begitu jelas melihat sang surya tenggelam dari jendela di lantai 3 rumahku. Aku lihat sekelompok burung berterbangan ke sana kemari. Kini langit sudah sangat gelap, tetapi mataku masih jelas menangkap sebuah bayangan yang tengah memencet bel rumahku. Kulihat Bik Mia membuka pintu pagar lalu berbincang-bincang dengan orang itu. Lalu ia menerima sebuah bingkisan berukuran mirip novel. Kemudian ia masuk ke dalam rumah.
Aku memutuskan turun ke bawah di samping perutku yang sudah keroncongan, aku juga ingin menanyakan siapa gerangan yang Bik Nur hampiri di depan tadi.
“Non Dhera belum tidur?” tanya Bik Mia yang mengejutkanku. Aku lihat wajahnya begitu pucat, rambutnya terurai dan sedikit basah.
“Ini sudah jam setengah dua belas malam, Non.” Sambungnya.
Apa? Apa aku tidak salah dengar? Barusan aku menyaksikan matahari terbenam, bagaimana bisa Bik Nur mengatakan ini sudah tengah malam? Kuacuhkan omongannya lalu aku menuju dapur. Rasa lapar ini semakin menjadi-jadi. Kubuka tudung saji, kudapati hidangan yang sepertinya baru dimasak. Lekas kuambil piring, meletakkan satu setengah sendok nasi di atasnya. Kuambil beberapa lauk yang ada. Lalu dengan serta-merta kumenyantapnya. Tibalah suapan terakhir dan.. teng.. tong.. teng.. tong. Jam dinding berbunyi. Mataku terbelalak saat kulihat jam itu menunjukkan pukul duabelas tengah malam.
Bulu kudukku merinding.
Aku tersadar di sebuah ruangan putih-putih oleh tetesan air yang ternyata kran yang belum aku tutup sempurna selesai aku mandi tadi. Tubuhku begitu dingin karena aku tertidur di dalam bak mandi yang berisi air. Kuraih handuk yang tergantung di samping cermin lalu aku keluar dari tempat itu. Kuhempaskan tubuhku di atas kasur yang empuk dihadapanku.
“Aku bermimpi lagi. Araggghh!”
“Semakin hari semakin menyeramkan!” gumamku kesal.
“Bik Nur… kau mendengarku? Tolong bawakan aku secangkir coklat hangat dan beberapa lembar roti ta…” belum genap pintaku, ia sudah nongol di depanku. Aku terperanjak.
“Sarapan tiba..” katanya dengan semangat sambil tersenyum.
“Aaah.. iya, Bik, terima kasih.”
“Oh, ya, Non, saya hampir lupa..” ia mengeluarkan sebuah bingkisan lalu memberikannya padaku. “Ini titipan dari teman Non Dhera.”
Segera saja kubuka bingkisan itu. Isinya sebuah buku mirip novel bersampul merah tanpa judul, nama penulis, nama penerbit, tahun terbit, dll. Saat kubuka halaman pertama, aku sudah disuguhkan dengan tulisan yang tidak dapat kubaca. Halaman demi halaman kubuka, sama saja. Namun aneh, beberapa halaman di akhir buku itu masih kosong. Saat kuperhatikan, ada bercak-bercak merah di halaman kosong itu. Mungkin bekas tinta, pikirku. Lalu kuletakkan buku itu di atas meja belajarku.
Kini aku berbaring di atas kasur empuk saat semua hal aneh itu menggerayangi otakku. Sial! Harusnya liburanku ini mengesankan bukannya mencekam seperti ini. Mataku mencari-cari sesuatu di meja belajar. Sesuatu yang baru kusadari telah hilang dari tempatnya dan hanya meninggalkan sebercak darah segar di sana. Kutarik nafasku perlahan lalu kucubit lenganku. Sakit! Artinya ini bukan mimpi. Aku terperanjak dari tempat tidurku, melompat ke sudut kamar, dan mengigil di sana. Peluh dingin mengucur dan membasahi tubuhku. Kulihat sosok yang sama seperti di depan rumah itu sedang duduk membelakangiku di meja belajar. Tangan kirinya memegang sebuah pena. Ia sedang menulis di atas sesuatu. Astaga! Di atas halaman kosong buku yang kucari-cari tadi.
“Kaukah novelis yang meninggal misterius itu?” tanyaku dalam ketakutan yang menyeruak. Namun ia tidak menjawab, ia tetap menggerakan pena itu. Bau darah segar dan amis itu semakin menjadi. Aku semaki ketakutan dan sesak. Kucoba untuk bangkit membuka pintu dan keluar dari kamar ini lalu pergi sejauh-jauhnya. Namun itu hanya khayalanku semata. Ia berdiri lalu berbalik badan ke arahku kemudian menatapku dengan tatapan penuh benci. Aku tak mengerti dengan semua ini terlebih tatapan penuh kebencian itu. Aku sama sekali tak mengenalnya. Di tengah kekalutan itu, ia mendekatiku lalu mencekik leherku. Aku memberontak, namun percuma saja, aku tak mampu melawan. Nafasku sudah putus-putus.
“Aku akan sangat senang bila kau mati di tanganku. Hahahahaha….” ucapnya dengan keras. Dengan sisa tenagaku, kukepalkan tangan lalu kuayukan dan tepat mengenai pelipisnya. Dia roboh sembari mengerang kesakitan. Dengan sisa tenagaku ini aku mencoba bangkit, meraih gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Aku berjalan terseok-seok menuruni tangga. Kulihat Bik Nur sedang berdiri ke arahku. Bukan! Bukan! Itu buka Bik Nur, melainkan sesosok hantu wanita berpakaian serba putih. Kini aku bagai telur di ujung tanduk.
“Ya, Tuhan, tolonglah hambaMu ini!” pintaku. “Aku tak ingin mati muda.” Tambahku. Namun, memang nasibku sedang sial. Sosok yang mencekikku tadi kini sudah dibelakangku dan hantu wanita itu sedang menaiki tangga. Kupejamkan mataku, aku pasrah.
Tenagaku sudah habis dan aku tergeletak begitu saja di lantai. Aku merasakan tubuhku diseret menuju sebuah tempat yang panas, pengap, sesak, dan penuh bau darah yang amis. Sungguh menjijikan. Kudengar jelas kedua makhluk lain itu sedang bercakap-cakap. Yang mencekikku tadi ternyata adalah seseorang yang kukalahkan dalam sebuah kompetisi menulis saat itu. Ia telah membunuh 9 orang finalis termasuk dirinya sendiri, dan sekarang adalah giliranku. Aku sadar, inilah maksud halaman kosong di akhir buku tersebut. Ternyata ia bermaksud menuliskan kisah pembunuhan tragis terhadapku beserta 9 finalis lainnya termasuk dirinya.
Aku memaksa mataku untuk terbuka. Aku ingin melihat dunia untuk yang terakhir kalinya. Lalu sebuah benda menembus jantungku dan menghentikannya berdetak seketika. Kurasakan diriku melayang ke suatu tempat yang sejuk, pemandangannya indah. Di sana aku bertemu dengan 8 finalis lainnya. Mereka menyapaku dengan hangat seolah kami telah lama bersama. Inikah surga? Batinku.
“Dhera….” teriak seorang wanita dari halaman rumahku yang berhasil membuyarkan lamunanku.
“Dhera, anakku….” teriak seorang lelaki di belakangnya, kemudian mereka berdua berlari ke arahku. Aku berdiri bermaksud untuk menyambut mereka, tapi mereka tak berhenti di depanku, melainkan masuk ke dalam rumah. Kulihat mereka bersimpuh di depan tubuh seorang gadis sebayaku yang tengah beristirahat berbalut kain.
“Papa, Mama, aku di sini..!” teriakku. Namun mereka tak menoleh ke arahku, malah semakin menangisi jasad itu. Aku terheran-heran. Siapa gerangan jasad itu? Mengapa papa dan mama begitu terlihat kehilangan?
Aku kembali ke tempat dudukku, menikmati coklat hangat dan beberapa lembar roti tawar buatan Bik Nur ditimpali dengan sebuah surat kabar. Pagi yang indah.
Kubuka koran yang masih terlipat itu lalu kubaca halaman pertama.
“Novel berdarah karangan seorang novelis tenar yang belum lama ini meninggal secara misterius, dikabarkan kembali memakan korban. Dhera, seorang siswi SMA yang juga seorang penulis, ditemukan meregang nyawa di gudang rumahnya. Sebuah buku mirip novel berdarah ditemukan di samping jasad korban.” Usai membaca separagraf berita itu,
“Dhera…” seorang wanita cantik bersayap memanggilku. Mengulurkan tangannya kepadaku. Kugenggam tangan yang membawaku terbang ke langit biru itu.
“Selamat tinggal, Ma, Pa, aku akan sangat merindukan kalian.” Ucapku sambil melambaikan tangan.
Sabtu, 06 September 2014
Pesarean Aer Mata Ebu
Assalamu’alaikum. Alhamdulillah kali ini saya masih bisa bercerita sedikit tentang suatu tempat yang bisa dikatakan sebagai tempat rekreasi di Pulau Madura. Selain Pesarean Syaichona Cholil, tempat pariwisata religi yang ramai dikunjungi dan dinilai keramat, adalah pesarean Aer Mata Ebuh di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan. Pesarean penuh sejarah, ini diyakini memiliki kekeramatan oleh masyarakat Madura. hal itu, menjadi magnet bagi wisatawan dari luar Madura. peziarah luar Madura yang berziarah ke Makam Syaichona Cholil, .
Bisa dipastikan, juga berziarah ke Pesarean Aer Mata Ebuh. Pesarean ini, menjadi pemakaman paling luas di Jawa Timur. Pesarean Aer Mata Ebuh merupakan tempat persemayaman keluarga yang sudah tujuh turunan, banyak dikenal masyarakat, serta penuh dengan sejarah dan kekeramatan. Juru kunci Pesarean Aer Mata Ebuh Moh. Jamal menceritakan, pesarean itu diberi nama Aer Mata ebuh, karena memang menjadi tempat pertapaan Kanjeng Ratoh ebuh Syarifah Ambami pada masa dulu.
Sumber mata air yang dipercaya sebagai air barokah, juga tidak lepas dari sejarah Ratu Syarifah Ambami. Menurut cerita Jamal, dulu Syarifah bertapa untuk keselamatan suaminya Raden Praseno, yang sedang berperang di Mataram. Dalam pertapaan itu, Syarifah menangis lalu bertemu Nabi Hidir. Dalam doanya, dia meminta kepada Allah, tujuh turunan mengusai Pulau Jawa. Karena tangisan itu, kampung di sini diberi nama Kampung Aer Mata . Kemudian, setelah datang dari Mataram, Raden Praseno bertanya kepada Syarifah Ambami, yang diperoleh selama bertapa. Syarifah menceritakan yang dialami selama bertapa.
Ternyata, cerita itu membuat Raden Praseno marah besar lalu kembali ke Mataram. Melihat kejadian itu, Syarifah Ambami bertapa lagi sambil menangis tiada henti, hingga air matanya tumpah di tempat bertapanya. Tempat bertapanya itu yang menjadi sumber mata air sampai sekarang. Bahkan, menurutnya sejak Gusdur jadi presiden, dan Jembatan Suramadu beroperasi, peziarah yang datang bukan hanya dari Madura saja, tetapi juga berasal luar negeri (Belanda).
Pokoknya tempat ini patut di rekomendasikan bagi Anda yang senang berekreasi atau berwisata religi. Karena keunikan yang berada di Aer Mata ini. Dan juga sebaiknya bagi yang mau berkunjung ke Aer Mata ini untuk membawa keluarga besar Anda. Demikian postingan saya kali ini semoga dapat diambil manfaatnya oleh para pembaca sekalian. Mohon maaf atas kekeliruan dalam postingan saya kali ini. Wassalamu’alaikum.





