Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 November 2014

Karma Fisika

     Ya ampuuuuuuuuuuuun, aku lupa mengerjakan tugas yang diberikan ibu guru . ahhh gimana nih, ah aku tanya ke Maeimun aja ah
"hei maimun apa kabar? kamu kok cantik banget hari ini?"
"udahlah Munaroh kamu mau apa dariku, gak usah basa basi ".
"yah galak banget sih kamu Maemun, aku nanyak boleh gak".
"ya cepetan , kamu mau nanya apa?".
"kamu PR yang diberikan ibu Sutinem udah apa belum".
"haaa PR yang mana sih".
"itu loh yang ada di Lks".
"oh yang itu, ya aku sudah lah"'
"ha? beneran? aku nyontek donk".
"gak mau ah"
"ayolah Maemun, nih aku kasih 5000"
"astaghfirullahalazim Munaroh kamu mau nyogok aku? bagaimana Indonesia mau maju kalau raakyatnya kayak kamu semua, masih kecil kecil udah main sogok-sogokan. . ."
"yah udah nih 10000"
"yah udah mana, jangan diulangi lagi ya, cepetan loh nyonteknya"

setelah perdebatan yang sangat sengit antara aku dan Maemun, akhirnya dia memberi aku contekan juga, kemudian aku buka  pelan-pelan bukunya disitu ada beberapa nomor yang terisi sebagian juga ada yang belum terisi. oh ya hampir lupa aku ini adalah salah satu Siswi SMA di kota Bangkalan. Aku kelas 2 SMA  aku adalah orang yang sangat membenci Fisika, setiap ada pelajaran Fisika aku terkadang tidak mendengarkan malah ngobrol sendiri sama teman sebangku.

aku mencontek dengan cepat sampai akhirnya selesai juga, kemudian aku mengembalikan buku itu ke Maemun, "Terima kasih  ya Maemun, kamu memang temanku yang sangat baik dan cantik lagi". kataku kepadanya."ya sama-sama Munaroh" sahutnya. sekarang aku merasa lega dan sangat senang, pelajaran demi pelajaran telah berlalu, sampai akhirnya pada pelajaran yang sangat aku benci, benci,benciiiiii.  ibu mulai memasuki kelas dan sambil mengucapkan salam.

lalu beliau langsung membahas PR yang telah diberikannya dengan menyruh setiap anak maju ke depan untuk menuliskan hasil kerjanya di papan tulis. teman per teman telah banyak yang maju, aku sangat santai karena aku sudah mengerjakannya nanti tinggal menyalin apa yang ada di buku ini. haha sampai akhirnya giliranku maju kedepan dan ternyata pada saat giliranku ini  adalah soal yang belum aku selesaikan, haaaaa mati ini aku mulai panik mencari jawaban kesana kemari, sampai ibu Sutinem memangilku ke depan, aku mulai berkeringat dingin, peluh bercucuran,  kemudian ibu memergokiku.

"hei Munaroh, ayo cepat kerjakan"
"i. . .iya bu ini sedang di proses" jawabku gugup. Aku mencari rumus apa yang harus aku pakai untuk menyelesaikan soal ini, IMPULS bukan, gerak parabola bukan, lalu yang mana?
"hei Munaroh mana ? katanya sedang di proses, kok kamu belum nulis juga"
"i. . . iya bu ini masih buffering"
"buferring, buferring emang kamu komputer apa?, jangan-jangan kamu belum ngerjakan ya?"
"Sudah bu. . . . "
"lah kalau sudah kenapa gak kamu tulis sekaran"
"sudah bu. . saya sudah bu. .  saya sudah gak tahan lagi mau buang air"
ya ampun Munaroh yaudah cepet sana kamu ke WC

Sabtu, 08 November 2014

Jam Tangan yang HIlang

Dinda, Azka dan Rizky. 3 Sahabat yang selalu dapat mengatasi masalah. Mereka sudah disebut sebagai “Three Detektiv”. Mereka memiliki analisa yang bagus, sehingga dapat menemukan barang yang hilang. Suatu hari, Dinda, Azka dan Rizky sedang berada di sekolah mereka. Sekolah Islam, dan tentu saja Dinda mengenakan kerudung (Azka dan Rizky tidak, karena mereka itu laki-laki).
“Kring… kring… kring.” Bel istirahat berbunyi. Mereka akan pergi ke kantin sekolah.
“Dinda, Azka, Rizky.” Panggil seseorang. Dinda, Azka dan Rizky menengok ke belakang. Ternyata itu Zalfa, anak perempuan yang kaya raya dan cantik.
“Ada apa, Zal?” Tanya Dinda.
“Ini, Arloji milikku menghilang, bisa tolong carikan tidak?” Jelas Zalfa.
“Bisa, terakhir kamu pakai dimana dan kapan?” Tanya Azka.
“Hilangnya baru tadi, saat aku melakukan Scary Job ke rumah anker bersam teman-temanku. Setelah itu aku gak tau keberadaan Arlojiku. Kumohon carikan. Arloji itu sangat mahal, Papaku membelinya di Thailand.” Jelas Zalfa.
“Oh, begitu. Jam berapa kamu ke rumah anker itu?” Tanya Rizky.
“Jam 6, tadi pagi.” Jawab Zalfa.
“Apa ada yang memegang tanganmu?” Tanya Dinda.
“Tentu saja Farach sahabatku memegang tanganku.” Balas Zalfa.
“Mungkin Farach yang mengambilnya. Aku akan mengintrogasikannya.” Ujar Rizky.
“Makasih ya, kalian akan sangat membantu. Tapi, aku jamin Farach gak mungkin mengambil Arlojiku. Dia bahkan tidak suka barang-barang yang berbau Thailand.” Gumam Zalfa.
“Kalau begitu, aku dan Azka akan menelusuri rumah anker itu, dan Rizky akan mewawancarai Farach.” Usul Dinda.
“Itu ide yang bagus. Karena istirahat hanya 20 menit, kita mencarinya saat pulang sekolah saja, ya.” Ajak Azka.
“I Agree.” Balas Dinda dan Rizky serempak. Zalfa meninggalkan Three Detektiv, Three Detektiv pun melanjutkan perjalanannya ke kantin.
Di Kantin…
“Percaya gak sih, kalau anak sebaik Farach mencuri Arloji milik sahabatnya sendiri?” Tanya Dinda heran.
“Percaya saja, manusia bisa melakukan apapun yang dia inginkan, gak terkecuali pada seorang sahabat yang baik.” Balas Rizky.
“Ya, bisa saja begitu, aku sering meminjam pensil Rizky tanpa Izin dan meminjam tanpa izin itu sama kayak mencuri, dan jujur saja aku ini sahabat yang baik.” Sambar Azka.
“Sahabat yang baik? Kalau kamu merasa kamu sahabat yang baik, kenapa kamu gak mau kasih tau aku jawaban soal nomor 14, tadi?” Tanya Rizky.
“Itu sih, masalah kamu. Sahabat yang baik itu, mencairkan otak temannya, bukan malah membekukan otak temannya. Jadi, aku ingin kamu berfikir sendiri.” Jelas Azka. Dinda, Rizky dan Azka tertawa karena logak suara Azka yang menggunakan Qolqolah.
“Kring… kring… kring.” Bel tanda sekolah usai berbunyi. Setelah menyalami guru. Three Detektiv segera berangkat ke rumah anker, namun Rizky tidak ikut, tugas Rizky mewawancarai Farach. Di perjalanan menuju rumah anker.
“Az, kok aku merinding gini, ya. Aku takut, nih.” Ucap Dinda gemetar.
“Tenang, Allah selalu ada di dekat kita dan selalu menjaga kita. Jadi jangan takut. Sudah ayo.” Ajak Azka semangat. Di halaman rumah anker sangat menyeramkan. Azka adalah anak Indigo, jadi semua makhluk adalah temannya. Sesekali Azka bicara sendiri. Mungkin berbicara dengan makhluk halus yang ada di sini.
“Teman, jangan ganggu temanku, dia baik kok, bukan penjahat. Hatinya juga selembut Kapas.” Ucap Azka kepada para makhluk gaib. Bulu Roma Dinda tidak lagi berdiri, mungkin karena para makhluk gaib itu sudah pergi.
“Azka, kamu berguna juga ya. Apa semua makhluk temanmu? Tanya Dinda.
“Jin jahat bukan temanku, dia musuhku, tapi kujamin di sini tidak ada mereka.” Jawab Azka. Dinda tenang. Sambil berjalan penuh hati-hati, Dinda dan Azka memasuki rumah tersebut. Rumah itu sangat gelap. Saking gelapnya, senter jam tangan Dinda saja tidak mempan menerangi ruangan tersebut. Tiba-tiba bulu Roma Dinda berdiri lagi.
“Azka, kenapa bulu romaku berdiri lagi? Tanya Dinda panik.
“Ada roh jahat di sini. Sebaiknya kamu baca surat apa saja.” Pinta Azka.
“Bismillah hirrohman nirrohim.” Ucap Dinda.
“Roh, kumohon jangan ganggu sahabatku. Pergi kau!” Perintah Azka. Dinda semakin Takut. Dinda merasakan Menginjak sesuatu.
“Dinda, kamu kenapa? Tanya Azka.
“Aku menginjak sesuatu, Az.” Jawab Dinda. Azka membungkuk dan mengambil benda yang Dinda injak. Ternyat itu adalah sebuah Arloji. Dinda dan Azka yakin bahwa ini Arloji milik Zalfa. Dinda dan Azka pun segera pergi dari rumah anker itu.
Saat sudah berada di depan sekolah. Dinda dan Azka mendekati Rizky, Zalfa dan Farach yang sedang mengobrol.
“Rizky, Zalfa, kami menemukan Arloji Zalfa, nih.” Ucap Dinda.
“Hah? Ini Arlojiku, Rizky benar, Farach yang mengambilnya. Itu milik siapa? Tapi, bentuknya sangat mirip dengan Arlojiku, ya.” Gumam Zalfa.
“Lah? Kok bisa, sih. Ini punya siapa? Tanya Azka heran.
“Farach, kamu menyusahkan sekali, lain kali, berfikirlah sebelum mengambil barang milik orang lain. Sekarang aku bingung milik siapa Arloji ini.” Ujar Dinda. Dinda merasa ada yang memegangnya. Saat dia berbalik badan, sesosok makhluk aneh berbicara.
“Kembalikan Arlojiku.” Ucap makhluk halus itu. Dinda dan yang lain gemetar, Dinda segera melempar Arloji itu dan LARIIIII!!!!

Misteri Villa dan Hotel Berhantu

Disuatu malam yang sunyi, aku dan 5 orang temanku sedang berjalan-jalan di pinggir jalan untuk mencari beberapa camilan untuk sekedar mengganjal perut. Namun tak ada satu penjual pun yang ada tapi kenapa desa ini kalau malam sangat sepi, 3 hari yang lalu aku dan 5 temanku menginap di sebuah villa di kota malang untuk hanya sekedar rekreasi. Awal yang hanya untuk berlibur malah menjadi horror dan misteri.
Tepat pada hari jum’at kliwon 3 orang temanku sedang foto-foto di depan sebuah pohon maklum teman-teman ku sangat suka berpose. Sementara aku dan 2 orang temanku bermain internet di dalam villa. Namun ketika temanku ( zulfa ) memasuki kamar mandi yg mungkin jauhnya 1 meter dari villa karena villa kita terpencil. Tiba-tiba terdengar suara rintihan seseorang yang sedang menangis, zulfa langsung berteriak sangat keras dan kemudian dia pingsan karena saking kerasnya aku dan tiara yg berjarak 1m dari zulfa pun mendengarnya, kemudian aku dan tiara menyusul zulfa di kamar mandi aku dan tiara pun terbelalak kaget zulfa hilang. Aku bingung bercampur sedih malahan tiara pun hendak pingsan. Akupun berlari memanggil alvy, wina, dan sinta. Mereka bertiga pun kaget dan menyusul aku ke kamar mandi dan menandu tiara yang pingsan. Kami berlima pun tidur dengan keaadan takut, dan sangat terpukul atas hilangnya zulfa sahabat yang sangat kita sayangi.
Keesokan harinya aku dan 4 temanku jogging sambil mencari zulfa namun kami tidak semakin keluar dari desa malah makin masuk kehutan, dan anehnya ketika orang berlalu lalang tidak ada satu orang pun yang kami tanyai menjawab mereka hanya membisu, kami terus memasuki hutan kami semakin takut lalu kami memutar jalan kami ke belakang namun kami tetap tidak bisa keluar dari hutan ini, seperti ada sihir. Kemudian kami menemukan sebuah gubuk tua yang kecil tak berpenghuni, teman kami wina yang dia sangat lucu mengalihkan rasa takut kami kepada hal yang lucu dan dia mengaitkan pada kurcaci Cinderella. Kami berempat pun tertawa namun tidak lama. Lalu kami memasuki gubug itu dengan di pimpin wina namun aku dan kelima temanku merasakan ketakutan yang sangat kami pun keluar tetapi tiba-tiba pintu gubug tertutup kami terperangkap di dalam,
Tiba-tiba seorang kakek yang kira-kira berumur lebih dari 80 tahun menghampiri kami dengan sebuah tongkat tua yang sudah berayap dengan leher di lilit ular dan itu membuat kami berlima semakin takut. Lalu kemudian seorang wanita yg seumur dengan kakek itu datang dengan membawa beberapa singa dan harimau yang mungkin sudah 2 minggu tidak makan kami semakin takut bahkan wina yang tadinya berani kini malah menangis. Kemudian kami mencari akal untuk bisa keluar dari hutan ini kami memperhatikan keadaan gubug itu kemudian kami melihat celah berwarna mejikuhibiniu yang berputar yg cukup besar kemudian kami saling berbisik dan mengatur siasat lalu wina dan sinta mengalihkan perhatian kakek, nenek, dan para peliharaannya dan aku dan alvy memasang semacam mercon asap yg berwarna-warni lalu kami langsung memasuki sinar celah majikuhibiniu itu kemudian kami serasa memasuki dunia yang sangat gelap tak berpenghuni kemudian kami mendengar suara sayup-sayup merintih kesakitan lalu kami beranikan diri untuk mengikuti bunyi itu namun semakin kami ikuti semakin gelap suasana nya. Lalu kaki sinta, alvy dan tiara seperti kakinya di tarik oleh sepasang tangan hitam yang sangat besar namun aku dan wina tidak. Kami berpelukan sambil berjalanan dan menangis.
Lalu kami menemukan celah seperti tadi kami pun keluar ketika di luar kami melihat sesosok kuntilanak yang wajahnya sangat menyeramkan aku dan wina pun langsung pingsan. Ketika kami berdua sadar kami berada di villa tempat kami sewa. Tapi tiara, sinta, alvy, zulfa, masih tetap hilang kami berdua bingung misteri apa dibalik pengalaman kami?. Kemudian kami menyalakan laptop dan mencari tentang misteri hutan larangan ini mungkin ada aku dan wina mencari kemudia ketemu satu blog yang penerbitnya pernah tinggal di villa kami dan mengungkap misteri yang sama seperti kami. Kami membaca hingga habis setelah itu kami berdua menjalankan siasat untuk mencari keempat teman kami, sinta, alvy, zulfa dan tiara.
Kami kemudian membereskan barang-barang kami berdua dan juga barang-barang sinta, alvy, zulfa dan tiara. Lalu kami masukkan ke mobil dan kami pergi meninggalkan desa. Lalu kami menemui pemilik blog yang sebelumnya sudah janjian di sebuah tempat wisata di kota malang. Setelah mengatur siasat kami berempat kembali ketempat villa, pemilik blog itu bernama bu rahmah dan suaminya pak zakaria. Lalu aku dan wina keluar dari villa dan pergi meninggalkan desa tetapi keluarga bu rahmah tetap tinggal. Aku menyuruh dina terus melihat ke belakang dan menyuruh berhati-hati ternyata benar dugaan bu rahmah ada sebuah mobil berwarna hitam hijau seperti mobil tentara yang mengikuti kami. Lalu kami melewatkan jalan-jalan sulit setelah mobil itu kehilangan jejak mobilku segera kembali.
Kemudian kami berempat memasuki hutan namun anehnya kini kami sangat mudah untuk memasuki hutan dan menemukan gubug lalu kami memasuki gubug ternyata sangat sepi lalu kami menemukan teman kami sedang terikat lalu kami membebaskannya dan menaikkan mereka keatas mobil tetapi penjahat tersebut kembali ingin menangkap dina dengan meletakkan tembak di leher wina, lalu bu rahmah menelepon polisi untuk menangkap penjahat tersebut tak lama kemudian polisi datang, penjahat tersebut kemudian ditangkap untuk di proses oleh hukum. Kemudian aku bertanya kepada sahabat-sahabatku apa yang sebenarnya terjadi?. Zulfa menjawab “sebenarnya yang berteriak itu bukan aku tapi orang lain kemudian orang itu menangkapku dan aku melihat kalian waktu di gubug aku di dalam sebuah penjara bawah tanah yang atas nya terdapat tangga dan terbuat dari kaca yang sangat tipis tapi berwarna coklat sehingga tidak kelihatan. Tetapi mulutku di selotip jadi aku nggak bisa teriak minta tolong”, lalu sinta bicara kalau aku sama tiara dan alvy ketika ditarik kaki kita, kita langsung dimasukkan ke penjara bawah tanah sama kayak zulfa tapi lemarinya besar disana aku juga ketemu sama banyak korban lain “lalu kakek dan nenek itu siapa?” “Tanyaku, orang-orang itu pakai topeng jadi kelihatan tua dan misteri jawab zulfa, lalu singa itu?” Tanyaku, alvy jawab “itu boneka.” “Lalu kuntilanak itu?” Tanyaku, “pokoknya semua itu boneka” jawab alvy juga. dina yang sebelumnya tertidur pulas langsung bangun dan menjawab “WHAAAAAT CUMA BONEKA, TAU GITU GUE GAK NANGIS, NYESEL GUE.” Semua langsung kaget sambil tertawa.
Tiba-tiba segerombol anak menghentikan laju mobil kita, kita pun turun dan memeriksanya segerombol anak-anak itu berterimakasih kepada kita karena kita telah membebaskannya dari para penjahat tersebut, kita jawab “SAMA-SAMA”.

Permainan Misterius

“Main apaan ya?” tanya salah satu dari mereka.
“Aku juga tak tahu,” jawab satunya lagi.
Ya. Mereka adalah sekelompok sahabat yang sedang terdiam di bawah pohong yang rindang. Kicauan burung di pagi yang cerah membuat mereka terbawa suasana.
“Aku tahu!” seru salah seorang yang membuat keheningan itu pecah seketika.
“Apa, Siska?”
“Ikuti saja aku. Aku akan menunjukkan cara bermainnya,” ujar Siska.
“Begini caranya. Aku diajarkan oleh kakakku Sarah,” lanjutnya lagi.
“Oke, kami mengerti.”
Sekelompok sahabat itu pun bermain dengan riang gembira di pagi yang cerah itu. Sampai waktunya siang tiba. “Huaaah! Tak terasa ya, cepat sekali waktu itu?” ujar Hana.
Lainnya mengangguk.
“Pulang yuk!”
“Ayo! Nanti sore main lagi, ya!”
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Sore pun tiba…
“Cherry! Cherry!” teriak sahabat-sahabat Cherry.
“Ya?”
“Main yuk!”
“Ayo!” Cherry segera pamit dan pergi bermain.
“Siska mana?” tanya Cherry.
“Di rumah Siska banyak orang berdatangan jadi, kami menghampirimu dulu,” jelas Fanny.
“Yap. Betul,” timpal Stella.
“Yuk, kita hampiri Siska!” ajak Cherry.
Mereka berempat pun ke rumah Siska.
Terlihat mama Siska dan kakak Siska berderaian air mata. “Loh? Tante? Kak Sarah? Kok kalian menangis? Kenapa?” tanya Cherry.
“Sis… Siska…” ujar kak Sarah terpatah-patah.
“Siska?! Siska kenapa kak?! Siska kenapaaa?!!!” teriak Hana ikut menangis.
“Sis… Siska… Siska meninggal… Hiks…” ujar mama Siska.
“APA?!?!” jerit mereka berempat. Hampir saja Hana pingsan mendengarnya. Tentu saja Hana, sahabat karib Siska sangat terpukul mendengarnya.
“Tidak… tidak mungkin Siska meninggal… Tidak mungkin!!!” jerit Hana lagi.
“Memang kenyataannya begitu, Hana… Kakak juga sangat terpukul. Tetapi, Allah berkehendak lain,” kata kak Sarah.
“Memangnya, Siska meninggal kapan, kak?” tanya Cherry seraya menangis juga.
“Siska meninggal saat tidur siang tadi. Dia tidak bangun sama sekali. Sampai akhirnya, kakak menyentuh nadinya, tak berdetak sama sekali.”
“Tragis sekali Siska meninggal. Ya Allah…, biarkan Siska tenang di alam sana, Ya Allah…. Semoga Siska diterima disisi-Nya ya kak.., tante… Kami pamit dulu,” ujar Stella.
“Iya. Hati-hati, ya…”
Sekelompok sahabat itu pun pulang ke rumah masing-masing lalu memberi tahukan hal ini kepada orangtuanya. Setelah itu, mereka berkumpul kembali. Hana masih terpukul dengan kematian sahabat sejatinya.
“Siska…”
“Sudahlah Hana. Biarkan Siska senang disana. Kita doakan saja dia agar diterima disisi-Nya,” hibur Fanny.
“Bagaimana kalau kita bermain permainan yang diajarkan Siska tadi?” usul Stella.
“Betul. Ayo!” Mereka bermain bersama tanpa Siska. Mereka berusaha ceria walaupun di dalam hati mereka sangat berduka. Mereka bermain sampai maghrib, lalu pulang.
Keesokan harinya…
“Cherry! Cherry! Ada telepon dari Fanny!” teriak bunda Cherry dari bawah.
“Ya, bun!” Cherry segera turun ke bawah dan mengangkat gagang telepon rumahnya. “Halo. Assalamu’alaikum Fanny.”
“Halo juga, wa’alaikum salam.”
“Ada apa, Fanny? Kok menelpon pagi-pagi?”
“Ada kabar duka lagi, Cherry.”
“Hah?! Apa itu?!”
“Stel… Stella… meninggal dunia tadi pagi pukul 06.45.”
“Innalillahi wa inna illaihi rojiuun…. Baru saja kemarin Siska meninggal. Sekarang Stella?”
“Iya. Ya sudah ya, Cher. Kita berkumpul di tempat biasa. Bye!”
“Bye!” Cherry menutup telepon dan segera memberitahu ke bundanya. Kemudian, Cherry ke tempat biasa berkumpul.
“Kemarin Siska. Sekarang Stella,” ujar Hana sedih.
“Ya. Pasti semua ini gara-gara permainan yang kita mainkan kemarin. Bukankah pertama Siska yang mengajak, lalu dia yang meninggal? Setelahnya Stella yang mengajak, dia yang meninggal. Pasti semua ini gara-gara…”
“PERMAINAN YANG DIAJARKAN SISKA!” tebak yang lainnya.
“Ayo kita selidiki!”
Mereka menyelidiki, tetapi tetap saja mereka tak menemukan apapun yang aneh di permainan itu.
“Sudahlah. Aku menyerah. Aku tak tahu apa yang harus kita lakukan lagi. Aku mau pulang,” ujar Cherry.
“Tapi, Cher! Kita belum selesai!”
“Iya, aku setuju dengan Cherry. Kita melakukan ini hanya sia-sia saja! Membuang waktu!”
“Ya sudah deh.” Akhirnya mereka semua pulang.
“Eits, tapi tunggu!” cegah Fanny.
“Ada apa?” tanya Cherry kemudian.
“Teman-teman kalian masih penasaran tidak dengan permainan yang diajarkan Siska?” tanya Cherry.
Teman-teman yang lain hanya mengangguk.
Agar tidak penasaran mereka menyelidiki lagi langkah-langkah permainan itu. Ternyata tanpa disadari mereka menemukan sesuatu yang janggal dari permainan itu. Kejanggalannya adalah kita harus mengucapkan kata homsalamaaripa. Mereka semua tidak tahu apa arti kata itu. “Eh, kalian ingat tidak? Dulu Siska bilang permainan itu yang mengajarkan permainan itu adalah Kak Sarah?” tanya Cherry lagi.
“Iya aku ingat”.
Setelah memutuskan akhirnya mereka bertanya kepada Kak Sarah.
Di rumah Kak Sarah… Setelah disuruh masuk mereka langsung bertanya. “Kak, kata Siska dulu permainan itu diajarkan oleh kakak?” tanya Cherry.
“Oh, itu nama permainan itu adalah E-Game. Kakak baru tahu dari teman kakak, katanya permainan itu bisa membuat orang yang mengajaknya bermain meninggal”.
“Lalu, kenapa kakak yang mengajarkannya tidak meninggal?”.
“Itu Karena kakak mengucapkan mantra sebelum memulainya. Kakak lupa memberi tahu Siska. Sekarang kakak tahu artinya E-Game adalah End-Game” jawab Kak Sarah.
Setelah berterima kasih mereka pulang. Mereka sudah tahu misteri yang tersimpan didalam E-Game.

Cintamu menadi jarum dalam Hidupku

Mentari pagi menyinari kamar mungilku, aku bangikt dari pembaringan menuju jendela kamarku. Kubuka dan kuhirup udara pagi yang begitu indah, ku nikmati semilir angin dan cahaya mentari yang begitu lembut menyapa wajahku. Ini adalah setahun dimana aku menginjakkan kaki di kota orang, yah setelah beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk merantau, meninggalkan seluruh orang yang mencintaiku, keluarga, teman, sahabat bahkan kekasihku.

Ada rasa sedih yang menyelimutiku kala itu, dimana aku harus melawan perasaan itu demi sebuah cita-cita. Yah, dari kecil aku ingin sekali menjadi seorang penulis hebat dan tentunya terkenal. Teringat di benakku saat kekasihku, menggenggam tanganku dan berkata “akankah kau cepat kembali, sayang?” entah apa yang membuat butiran di pipiku terjatuh, dengan lirih ku jawab “tentu sayang aku akan cepat pulang untukmu” ia mendekap tubuhku erat sebelum kakiku melangkah ke ruang tunggu bandara, lalu mengecup keningku dan berkata “aku aka sangat merindukanmu” aku hanya tersenyum menahan tangis mendengar kata yang terucap dari bibirnya.

Ahh, masa lalu yang indah. Tapi, tidak untuk sekarang. Kini kekasih yang kucinta telah berdua dengan yang lain. Wanita yang bagiku tidak begitu menarik tapi, apa peduliku terhadapnya? Toh, dia juga tidak pernah mengerti akan perasaanku yang jauh darinya. Kalau dipikir, aku telah menjaga hatiku untuknya. Dan dia, apa yang dia telah lakukan untukku? Semua janjinya palsu dan omong kosong belaka. Kini aku hanya bisa memendam amarahku dan cintaku yang dulu telah berubah menjadi benci terhadapmu, benci dengan semua kata yang keluar dari mulutmu, benci dengan tatapanmu yang begitu membuatku muak. Tak ada lagi keindahan yang kulihat darimu semenjak hari itu, hari dimana aku berencana untuk pulang liburan di kota asalku. Dan betapa kagetnya aku ketika rini, sahabat karibku bercerita tentang ulahmu selama kepergianku.

“maaf putri, aku menganggumu malam-malam seperti ini” ia mengawali percakapan ketika kami berjanji untuk bertemu di taman kota. Awalnya aku berfikir rini hanya sekedar curhat dan menceritakan tentang ia dan pacarnya, seperti apa yang sering ia lakukan ketika kami berdua. Namun, ia tampak takut dan ragu ketika memulai percakapan.
“putri, apa kamu masih mencintai vito?” tanpa berfikir panjang aku menjawab “tentu, ia lelaki yang sangat kucintai. Dan ia pun begitu sangat mencintaiku”
“apa kamu yakin dengan kata yang baru kamu ucapkan?” tanyanya kemudian
“ia aku yakin kok, aku sama dia itu bagaikan ratu dan raja yang tidak berarti jika salah satu diantaranya berpisah” ungkapku
“tapi jika kekasihmu itu selingkuh di belakangmu? Apa kau akan tetap mencintainya?”
“kenapa kamu bertanya demikian? Apa yang kamu katakan itu benar?” tanyaku menyelidik
Lalu rini menceritakan apa yang ia lihat selama aku pergi, dan aku tak tau mengapa air mataku turun membasahi pipiku, hatiku berkecamuk, perih, sakit. Rini memelukku dengan penuh kehangatan, yah ia adalah sahabat terbaikku yang selalu ada disaat aku senang dan sedih. Setelah bercerita cukup lama rini mengantarkanku pulang.

Setiba di kamar, mataku tak bisa terpejam mungkin firasatku benar dan salah satu yang mendorongku pulang karena ada yang ganjal dengan perasaanku. Bukan keluargaku ataupun teman karibku, melainkan kekasihku. Kekasih yang selama ini aku bangga-banggakan di depan teman-teman kampusku. Dan sekarang, apa yang bisa kubanggakan darinya?
Seminggu setelah perasaanku terguncang dan mulai sedikit melupakannya, vito kembali datang menemuiku. Membawakan bunga mawar kesukaanku.
“mau apa kau kesini, belum cukup kau membuat hatiku terluka” kataku penuh dengan nada kebencian tanpa memandang wajahnya sedikit pun
“aku ingin meminta maaf, aku khilaf. Aku janji tak akan mengulangi ini lagi” ucapnya dengan nada yang memelas
“kau pikir aku percaya, cuihhh… pergi sana aku sudah tak sudi melihat mukamu yang meminta belas kasian. Pergilah dengan wanita pilihanmu, ku dengar kau akan menikahinya? Pergilah dan berbahagialah dengannya. Semoga ia lebih baik dariku” ucapku lalu membanting pintu dan berlari memasuki kamarku seraya butiran air mata itu jatuh lagi.

Namun, entah apa yang mendorongku mengasiahaninya, aku melihat dari jendela kamarku. Ia masih berdiri disana di depan pintu rumahku. Seakan hati kecilku berkata “untuk apa kau masih melihatnya ia tidak akan pernah tau betapa sakitnya hatimu.” seakan aku terhipnotis lalu memasang headset dan mendengar lagu kesukaanku, geisha (lumpuhkan ingatanku). Lalu mataku perlahan terpejam dan tak terdengar alunan lagu itu lagi.
Tok, tok, tok,
Suara ketukan kamar mambangunkanku, kulirikkan mataku pada arloji di tanganku, tepat jam 4 sore. Cukup lama juga tidurku, pikirku. Kulangkahkan kakiku dengan lemas, menuju pintu dan membukanya. Ternyata adikku, siska “kak, tadi aku menemukan ini di depan pintu rumah, sepertinya ini untuk kakak. Ada namanya disitu” katanya polos, gadis kecil berusia 6 tahun itu begitu menggemaskanku.
“makasih sayang”, ku belai rambutnya kemudian ia berlari menuju ruang tv, menonton kartun favoritnya.

Ini pasti dari vito untukku, aku penasaran dengan isinya sebuah kotak mungil yang begitu unik berwarna ungu muda, warna kesukaanku. Sebuah surat yang terlipat rapi dengan kertas berwarna biru muda. Untuk wanita pujaanku, Maaf jika, aku telah menyakitimu, jika telah membuat perasaanmu tercabik, luka dan perih. Tapi, ketahuilah aku masih sangat menyayangimu dan berharap bisa bersanding denganmu. Namun, aku sadar aku tak pantas untukmu. Selepas kepergianmu, ayahku terlilit utang dan ia kebingungan mencari dana untuk membayar. Hingga ia meminjam uang kepada rentenir, yang memiliki anak gadis yang menyukaiku. Aku tak tau tentang ini semua, setelah ibuku bercerita. Bahwa aku akan dinikahkan dengan gadis anak rentenir itu demi menebus utang ayahku. Aku bingung, hatiku dan pikiranku kacau, aku mencintaimu sayang,
Besok adalah hari pernikahanku, aku tak tau apakah ku akan bisa menjalani itu.

 Bahagiaku hanya bersamamu, kau wanita impianku yang akan menjadi istri dan ibu dari anak-anakku. Tapi, harapan itu sia-sia. Aku terpaksa melakukan ini demi menyelamatkan keluargaku. Maaf ku tak bisa menepati janjiku tuk menikahimu. Bukan karena ku tak cinta padamu, tapi karena keadaan yang tak bisa aku hindari.
Percayalah cintaku hanya untukmu,
Peluk dan ciumku untukmu,
Lelaki yang telah menyakitimu…
Air mata ini jatuh lagi, aku salah terhadap vito, kini aku mengerti mengapa ia bermesraan dengan wanita lain. Agar aku tahu dan membencinya, sehingga aku tak menangisi kepergiannya. Tapi mengapa, mengapa ini terjadi…
Kini aku hanya bisa menyesali perbuatanku, tapi aku tetap benci terhadap vito dan akan selamanya membencinya. Karena ia tidak bisa menentang keinginan itu.

Arti Dari Sebuah Senyuman

Pagi ini gue lagi males-malesnya belajar Matematika dan gue pun akhirnya mulai terhasut oleh setan yang terkutuk untuk cabut dari kelas, dan melarikan diri ke ruangan favorit gue yaitu Perpustakaan. Oh ya gue lupa ngenalin diri kenalin nama gue Dania, Dania itu gue, kalau loe pernah dengar nama Dania itu gue. Gue salah seorang pelajar biasa dari SMA CHAMAR, ini adalah tahun ke dua buat gue ada di sekolah itu. Gue suka banget sama yang namanya nulis cerpen, Dan kata orang-orang nih gue adalah penulis terhebat di sekolah gue.

Seperti biasa suasana di Perpustakaan masih sepi, sunyi, senyam kayak kuburan. Cuma ada bu Fitri yang duduk di meja Penjaga Perpustakaan. Gue milih duduk di kursi paling sudut ruangan itu. Gue mulai merangkai kata-kata yang gue punya untuk dijadiin sebuah cerpen. Tiba-tiba Suara rusuh datang dari pintu perpustakaan, disana tampak Pak Kepala Sekolah membawa seorang murid sambil mulai mengeluarkan kalimat-kalimat bijaksananya.

“Saya tau kamu anak ketua komite di sekolah ini tapi kamu ngak bisa semena-mena disini mengerti kamu?”
“Iya Pak”.
“Sekarang kamu harus nulis soal Esay ini”.
“Retweet”.
“Retweet itu apa?”
“bapak kepo deh”.
“sudah sekarang kamu lakukan tugas kamu”.
Gue ngak terlalu kehilangan fokus dengan tulisan gue, gara-gara kejadian yang baru saja berlalu. Gue udah bosan nulis dan sekarang kayaknya gue mau baca salah satu buku di perpustakaan.
Gue mulai berjalan menelusuri semua jalan di perpustakaan untuk mencari buku yang gue pinginin. Tak lama gue berkelilingi akhirnya gue menemukan buku yang gue ingin, tapi masalahnya tuh buku berada di rak paling atas. Gue berusaha sekuat tenaga dan berairan keringat untuk menggambil buku itu tapi al hasil gue ngak juga berhasil. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang meraih buku itu dan memberikannya ke tangan gue.

“Loeee… makasih ya”.
Alex Diam saja
Alex Cuma menjawab kata terima kasih gue Cuma dengan senyuman.
Jam Istirahat akhirnya datang, gue langsung beranjak ke kelas gue. Gue langsung duduk di bangku gue, tiba-tiba Maia datang dan duduk di sebelah gue.
“Loe cabut kemana? Ke perpustakaan lagi?”
“Nah tu loe tahu. Oh ya loe tahu sama anaknya ketua komite sekolah kita ngak?”
“Tau, namanya Alex dia juga kelas 11 kok. Dia itu udah Cakep, Tajir, Ketua genk Motor lagi”.
“dan juga bandel pastinya”.
“kok loe tahu? Loe kepoin dia ya?”
“Ngak ah, tadi gue lihat dia dihukum sama kepala sekolah”.
“OHHH”

Malam ini gue ketimpa sial, gue disuruh nyokap buat beli sate ayam yang ada di ujung jalan dekat komplek rumah gue. Perjalanan gue masih aman saat pergi, tapi saat pulang perjalanan gue mulai terasa mencekam. Tiba-tiba gue dikerumuni oleh banyak motor balap. Gue panik setengah mati, dan mulai terduduk di jalanan. Tiba-tiba dari belakang datang sebuah motor lainnya dan menghampiri gue dan kerumunan motor lainnya.
“Jangan Ganggu dia, Dia teman gue”.
“Siap Komandan”.
Semua Gerombolan motor itu mulai pergi ninggalin gue kecuali satu motor, tiba-tiba si penggendara motor itu membuka helmnya dan betapa terkejutnya gue ternyata yang ada di balik helm itu adalah Alex. Setelah membuka Helmnya Alex lagi-lagi hanya memberikan sebuah senyuman buat gue. Dan senyuman kali ini benar-benar buat gue ngefly plus bingung setengah mati.
Seminggu Kemudian.
Gue ikut lomba nulis cerpen antar pelajar di Yogyakarta selama seminggu, dan saat tiba di sekolah hal pertama yang gue lakuin adalah pergi ke perpustakaan. Saat gue sampai di ruangan itu entah kenapa gue kecewa saat melihat nggak ada satu orang pun yang ada di ruangan itu.
“ada apa sih sama loe dan, Loe tuh kenapa. Kan biasanya perpustakaan ini emang kosong”.
Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri tepat di belakang gue.
“Nyariin gue ya?”
Gue ngak bisa balikin tubuh gue karena Alex sudah beridiri tepat di belakang tubuh gue, dan itu membuat gue ngak bisa ngelakuin apapun.
“Ngak kok, Kata siapa?”
“Kata gue barusan”.
Gue mulai merasa gugup dan akhirnya gue mulai memaksakan diri untuk berbalik dan berjalan pergi tapi tiba-tiba tangan gue ditarik oleh Alex, lagi-lagi Alex ngasih gue Senyuman penuh tanda Tanya itu tanpa ngeluarin sepatah kata pun.
Malam ini di kamar gue Cuma ditemani dengan lantunan suara Sammy Simorangkir dengan semua lagu-lagu galaunya yang tingkat dewa, tiba-tiba HP gue berdering tanda ada panggilan masuk. No Name tulisan itulah yang muncul di layar Hp gue, tak butuh waktu lama gue langsung ngangkat tuh telfon.
“Halooo, Siapa disana?”
Gue ngak mendengar suara apapun selama 2 menit, saat gue mulai bosan teriak HALOO…. HALOO dan akan menutup telfon tiba-tiba terdengarlah suara petikan gitar dan tiba-tiba terdengarlah suara seseorang bernyanyi I WILL FLY dari Ten 2 Five.
Sampai lagu itu berakhir orang yang di ujung sana masih belum mengeluarkan suara, sampai akhurnya dia mengakhiri pangggilan itu.
“Argggghhttt, tuhan kenapa hidup ini penuh dengan tanda Tanya? Alex aja udah buat gue bingung sekarang nih orang lagi tiba-tiba nyanyiin gue lagu. GALAU NIH GUE”.

Keesokan Harinya, Kesengsaraan Hidup gue belum berakhir, Pak Muklis supir gue tiba-tiba jatuh sakit dan dampaknya hari ini gue harus pergi sekolah naik angkot. Saat gue keluar dari pagar rumah dan mulai berjalan tiba-tiba ada sebuah motor yang berhenti di depan gue.
“Naik!!!”
Entah kenapa saat mendengar perintah itu gue langsung nurut dan langsung naik ke motor itu. Gue kayaknya kenal sama motor ini, bukannya ini motornya Alex.
“Lex ini loe kan?”.

Lagi-lagi hanya anggukan kepala yang menjawab pertanyaan gue.
Di sepanjang perjalan gue dan Alex ngak bicara sepatah kata pun. Kami pun akhirnya sampai di parkiran sekolah, saat gue turun dari motor Alex dan ingin berjalan pergi ninggalin Alex yang masih duduk di motornya. Alex narik tangan gue dan itu membuat langkah gue berhenti.
“Dan yang kemarin malam nelfon loe itu gue”.
“Jadi itu loe?”
“Dan gue suka sama loe, loe mau jadi pacar gue kan?”
“Lex loee?”
“gue Cuma butuh jawaban ya atau enggak”.
“Nggak!!”
“Nggak?”
“Ngak ragu buat bilang Iya!”
“makasih ya Dan”.

Senin, 20 Oktober 2014

Hotel Berhantu

http://hororskops.com/wp-content/uploads/2013/04/hotel-angkar.jpg 
          Dina, Tiara, dan Fani berjalan menuju sebuah Hotel yang tak lagi dipakai. Mereka penasaran dengan hotel itu. Kemarin, ketika mereka pulang sekolah. mereka sempat mendengar pembincangan tetangga kami. Kata tetangga, sebuah hotel yang bernama Hotel Bintang maju itu sangat angker. Mereka sangat penasaran dengan Hotel. Mereka pun memutuskan untuk menyelidiki Hotel itu.
Sampai di hotel, mereka pun segera membuka pintu hotel itu.

          Anehnya, pintu hotel itu tiba tiba terbuka sendiri. diam diam, mereka pun masuk ke dalam hotel. Suasana di dalam hotel itu sangat gelap, jadi mereka pun terpaksa menggunakan senter untuk menerangin ruangan. Tiba tiba, mereka pun menemukan sebuah tangga. mereka pun segera naik ke tangga itu.
Sampai di lantai 2, mereka pun mendengar suara tawa anak kecil. Tentu saja, mereka sangat ketakutan. tiba tiba, mereka melihat sesosok kuntilanak yang sedang terbang ke atas.
“AAAAAAAAAAAAAA!!!!” mereka pun berteriak histeris, lalu mereka pun segera berlari.

         Namun, mereka pun terjebak di suatu ruangan yang cukup gelap. Tiba tiba, mereka melihat sesosok hantu muncul di hadapan mereka. Mereka pun semakin ketakutan. Akhirnya, mereka pun di tangkap oleh hantu itu. Lalu hantu itu segera membawa mereka ke penjara bawah tanah. Sampai di Penjara, mereka pun di kurung di penjara.
Hantu itu terseyum sinis. hantu itu segera membuka topengnya, rupanya dia itu bukanlah hantu. melainkan, seorang wanita yang sangat cantik.

 “Hahahaha, kalian telah terkurung di sini. bulan depan lagi, kalian akan di jual ke luar negeri, “kata Wanita itu sambil terseyum sinis.
“Kamu jahat! kamu Jahat!” teriak Tiara.
“Diam kamu!” hardik Wanita itu.
Wanita itu segera pergi meninggalkan mereka.
“Bagaimana ini? Kita harus keluar dari sini. aku tidak mau di jual ke luar negeri,” kata Dina.
“Tenang dulu, jangan khawatir. aku akan berpikir dulu, bagaimana cara untuk keluar dari sini,” kata Fani.
Diana, Tiara dan Fani segera berpikir. tiba tiba, Fani mempunyai ide. Dia pun segera melakukan siasat. Fani segera memanggil Wanita itu. Wanita itu tiba tiba datang.
“Ada apa?” tanya Wanita.
 
“Tolong, bisakah tante temani aku ke toilet. soalnya aku mau buang air kecil” jawab Fani.
“Baik, aku akan menemanimu ke Toilet” kata Wanita itu.
Wanita itu segera menemaninya ke Toilet. Tiba tiba, Fani melihat sebuah balok kayu di atas meja. Fani pun segera mengambil balok kayu itu, lalu dia pun memukul kepala Wanita itu terlalu keras. Sehingga, Wanita itu jatuh pingsan.
Fani segera membuka pintu penjara itu. Dina dan Tiara segera keluar dari penjara. Mereka pun segera mengikat wanita itu, lalu mereka pun segera menelpon Polisi.
Para Polisi segera datang ke hotel itu. Sampai di hotel, Polisi segera menangkap Wanita itu. Ketika di tanya oleh polisi, Wanita itu mengaku bahwa dia adalah seorang penculik anak. Wanita lalu dicebloskan ke dalam penjara. Akhirnya, Dina, Tiara dan Fani selamat dari tangkapan Wanita itu.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Penderitaan Sutisna

Sore hari di rumah yang mungil nan penuh kebahagiaan Sutisna dan temannya Fitri belajar bersama,disaat yang bersamaan adiknya alissa sedang tidur di sebelahnya . dua jam berlalu Sutisna merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya seakan ada goncangan  yang dahsyat,fan tak tersadarkan Sutisna mimisan.temannya tertegun melihan Sutisna yang seperti itu dengan sigap ia pun bertanya “ kamu kenapa Ntis?,kamu sakit tah?, kenapa gak bilang dari tadi ntis?,biar belajar hari ini bisa di ganti esok hari.
           
Sutisna merespon pertanyaan tersebut hanya dengan sebuah seyuman yang manis,tak lama kemudian alissa terbangun .alissa pun terkejut melihat buku,lantai,hidung Sutisna ada darahnya. “kakak kenapa?,kok ada banyak darah gini,kamu mimisan kak?atau sakit?,terus kakak gak bilang bilang.” Alissa khawatir. “ jangan kasih tau  siapapun ya dek.kakak gak mau yang lain tau ,kakak gamau ngerepotin seisi rumah hanya karena kakak,jadi kakak harap adek gak usah bilang sama siapa siapa ya.
Alissa hanya terdiam,dia di buat bingung dengan keadaan kakaknya. Sebenarnya ia ingin untuk memberitahukan pada keluarganya,tapi disisi lain kakaknya melarangnya,jadi mau tak mau alissa harus menuruti permintaan kakaknya.
sejak kejadian itu kondisi kesehatan
Sutisna mulai melemah,bahkkan ia terkadang tak kuat beraktifitas seperti biasanya Hingga waktu menjawab ,Sutisna jatuh sakit. Setelah mengetahui hal itu keluarganya pun segera membawa ke klinik terdekat.sampai di sana ia diperiksa kemudian dokter pun langsung menyararankan untuk rujuk ke rumah sakit besar karena keadaannya Sutisna buruk dan kecurigaan dokter akan adanya benjolan kecil di lehernya
Ternyata setelah di periksa Sutisna mengidap penyakit kanker ganas.setelah mengetahui hal tersebut semua keluarga Sutisna terlihat lemas,karena Sutisna mengalami penyakit itu.ternyata biaya nya sangat mahal. Sutisna harus operasi dengan biaya 200 juta.mereka kebingungan dari mana biaya itu di dapatnya,sehingga waktu menjawab Sutisna harus meninggalkan semuanya karena biaya yang tidak dapat dipenuhi.

Misteri Toilet yang Dikutuk

http://www.iberita.com/wp-content/uploads/2012/12/inax-satis.pngPada suatu ketika, ada seorang pemuda bernama Bondan. Dia adalah seorang siswa kelas 2 SMA, Dia memiliki teman-teman yang sangat baik kepadanya.  Andi adalah teman yang paling dekat dengan Bondan. Itu dikarenakan mereka sudah saling mengenal sejak mereka masih kecil. Suatu ketika, Bondan, Andi, dan teman-temannya pergi ke villa ketika liburan tiba. Ditengah perjalanan mereka berhenti di suatu rumah makan. Mereka memesan makanan kesukaan mereka masing-masing.

 Ketika makanan telah di pesan, tiba-tiba Andi merasakan sakit di perutnya, "hey kawan sepertinya perutku mules nih" keluh Andi kepada teman-temannya. "ya sudah sana cepetan kamu ke toilet, nanti malah keluar disini" saran Bondan. Andi langsung menuju toilet yang ada di rumah makan tersebut, sebelum Andi membuka pintu toilet, disana terlihat ada dua buah tulisan yang berbeda di dinding. Yang sebelah kiri bertuliskan "Toilet ini dikutuk". dan disebelah kanan tulisannya " Tulisan ini akan berubah".

Andi yang mekihat kedua buah tulisan aneh itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala atas keisengan orang yang menulis ini. "kalau toilet ini benar dikutuk, kenapa masih dibuka untuk umum, bukannya disegel. Dasar orang bodoh" pikir Andi. Andi pun masuk ke dalam toilet untuk memenuhi panggilan Alam(BAB). Setelah mengunci pintu, Andi pun duduk di atas toilet. Dan kemudian Andi teringat tulisan yang ada di dinding tadi, Andi melihat ke atas. Disebelah kiri tulisannya masih "Toilet ini dikutuk". dan disebelah kanan pun tulisannya tetap "Tulisan ini akan berubah".

 Tulisannya sama sekali tidak berubah, masih sama dengan yang Andi lihat sebelumnya. "berarti toilet ini tidak dikutukkan?" tanya Andi dalam pikirannya. kemudian Andi bergegas keluar dari toilet setelah dia merasa lega dengan sakit perutnya. Andi pun menceritakan semua yang dialaminya selama di toilet kepada teman-temannya.Awalnya mereka juga menganggap tidak ada hal aneh terhadap kedua buah tulisan yang ada di toilet namun salah seorang diantara mereka yang bernama Lawiet menangkap hal yang ganjal. dia kemudian menjelaskan kepada Andi bahwa jika pada awalnya ketika Andi berada di luar toilet tulisan "Toilet ini dikutuk" ada dikiri harusnya ketika Andi berada di dalam toilet tulisan itu berada di sebelah kanan sebaliknya dengan tulisan "Tulisan ini akan berubah"  yang pada awalnya berada di sebelah kanan jika dilihat dari dalam, maka akan terlihat berada di kiri, itu karena ketika Andi berdiri diluar toilet dia menghadap kedalam dan ketika dia duduk di atas toilet dia menghadap keluar seharus tulisannya akan terbalik. itu berarti toilet itu benar-benar dikutuk

Setelah mendengar penjelasan Lawliet Andi, Bondan dan yang lain mengeluarkan keringat dingin dari sekujur tubuh mereka, kemudian mereka semua pergi ke toilet tadi untuk memastikan tulisan aneh itu. dan memang benar tulisan itu ada, lalu mereka lari dan bertanya kepada pemilik rumah makan itu tentang toilet terkutuk itu. sang pemilik pun merasa heran karena rumah makan miliknya tidak pernah memiliki toilet itu karena rumah makan ini sangat sederhana. Andi dkk terkejut dan lari dari rumah makan tersebut sampai-sampai lupa membayar makanan yang telah mereka pesan.

Minggu, 07 September 2014

Darah dalam Novel

pada saat itu Aku sedang duduk santai di teras rumah setelah menyelesaikan tugas bersih-bersih rumah yang diberikan orangtuaku sebelum pergi ke rumah Paman Dono. Bibi Mia datang sambil membawa secangkir kopi panas dan meletakkannya di sampingku.
“Ini, Non, kopinya,” kata Bibi Mia.
Aku terheran-heran. Sejak kapan aku suka ngopi dan kapan aku memesannya? Belum sempat protes, seorang tukang pos berhenti di depan pagar rumahku. Memencet bel dan memaksaku bangun dan menghampirinya. Saat aku sampai di sana, tukang pos itu menghilang tanpa jejak. Aku kembali terheran-heran. Aku mengamati sekelilingku tapi aku tak menemukan apapun.

Dengan kesal, kulangkahkan kaki memasuki halaman rumah. Dan kudapati sepiring nasi goreng di atas meja di teras.
“Tampaknya Bibi Mia sedang hank.” Kataku lalu masuk ke dalam, menuju lantai 2 tempat kamarku berada. Kubuka pintu kamar namun ada sesuatu yang aneh, pintunya terkunci! Lagi-lagi aku terheran-heran. Jelas-jelas tadi pagi pintu kubiarkan terbuka. Lalu aku pergi ke dapur untuk mengambil kunci serep. Aku mencium bau darah segar dan sedikit amis saat masuk ke dapur. Aku mengira Bibi Mia   barusan memotong ikan atau daging dan lupa membersihkan sisa-sisanya. Ya… aku tak memikirkan soal itu lagi. Kuambil kunci serep kamar yang tergantung di dinding di samping kulkas.
Saat aku berjalan menaiki tangga, kudengar jeritan seseorang dari arah kamarku. Sontak aku berlarian ke sana. Cepat-cepat kumasukkan kunci ke lubang pintu namun pintu kamar tidak kunjung terbuka.
“Astaga! Aku salah mengambil kunci!”
Kini terdengar seseorang mengedor-ngedor pintu itu dengan keras.
“Non… non… bangun, Non! Sudah jam setengah tujuh. Nanti Non terlambat!”
WAAAA… aku terperanjat bangun lalu berlarian membuka pintu kamar.
“Bik, hari ini aku libur!!”
-00-
Aku begitu jelas melihat sang surya tenggelam dari jendela di lantai 3 rumahku. Aku lihat sekelompok burung berterbangan ke sana kemari. Kini langit sudah sangat gelap, tetapi mataku masih jelas menangkap sebuah bayangan yang tengah memencet bel rumahku. Kulihat Bik Mia membuka pintu pagar lalu berbincang-bincang dengan orang itu. Lalu ia menerima sebuah bingkisan berukuran mirip novel. Kemudian ia masuk ke dalam rumah.
Aku memutuskan turun ke bawah di samping perutku yang sudah keroncongan, aku juga ingin menanyakan siapa gerangan yang Bik Nur hampiri di depan tadi.
“Non Dhera belum tidur?” tanya Bik Mia yang mengejutkanku. Aku lihat wajahnya begitu pucat, rambutnya terurai dan sedikit basah.
“Ini sudah jam setengah dua belas malam, Non.” Sambungnya.
Apa? Apa aku tidak salah dengar? Barusan aku menyaksikan matahari terbenam, bagaimana bisa Bik Nur mengatakan ini sudah tengah malam? Kuacuhkan omongannya lalu aku menuju dapur. Rasa lapar ini semakin menjadi-jadi. Kubuka tudung saji, kudapati hidangan yang sepertinya baru dimasak. Lekas kuambil piring, meletakkan satu setengah sendok nasi di atasnya. Kuambil beberapa lauk yang ada. Lalu dengan serta-merta kumenyantapnya. Tibalah suapan terakhir dan.. teng.. tong.. teng.. tong. Jam dinding berbunyi. Mataku terbelalak saat kulihat jam itu menunjukkan pukul duabelas tengah malam.
Bulu kudukku merinding.

Aku tersadar di sebuah ruangan putih-putih oleh tetesan air yang ternyata kran yang belum aku tutup sempurna selesai aku mandi tadi. Tubuhku begitu dingin karena aku tertidur di dalam bak mandi yang berisi air. Kuraih handuk yang tergantung di samping cermin lalu aku keluar dari tempat itu. Kuhempaskan tubuhku di atas kasur yang empuk dihadapanku.
“Aku bermimpi lagi. Araggghh!”
“Semakin hari semakin menyeramkan!” gumamku kesal.
“Bik Nur… kau mendengarku? Tolong bawakan aku secangkir coklat hangat dan beberapa lembar roti ta…” belum genap pintaku, ia sudah nongol di depanku. Aku terperanjak.
“Sarapan tiba..” katanya dengan semangat sambil tersenyum.
“Aaah.. iya, Bik, terima kasih.”
“Oh, ya, Non, saya hampir lupa..” ia mengeluarkan sebuah bingkisan lalu memberikannya padaku. “Ini titipan dari teman Non Dhera.”
Segera saja kubuka bingkisan itu. Isinya sebuah buku mirip novel bersampul merah tanpa judul, nama penulis, nama penerbit, tahun terbit, dll. Saat kubuka halaman pertama, aku sudah disuguhkan dengan tulisan yang tidak dapat kubaca. Halaman demi halaman kubuka, sama saja. Namun aneh, beberapa halaman di akhir buku itu masih kosong. Saat kuperhatikan, ada bercak-bercak merah di halaman kosong itu. Mungkin bekas tinta, pikirku. Lalu kuletakkan buku itu di atas meja belajarku.

Kini aku berbaring di atas kasur empuk saat semua hal aneh itu menggerayangi otakku. Sial! Harusnya liburanku ini mengesankan bukannya mencekam seperti ini. Mataku mencari-cari sesuatu di meja belajar. Sesuatu yang baru kusadari telah hilang dari tempatnya dan hanya meninggalkan sebercak darah segar di sana. Kutarik nafasku perlahan lalu kucubit lenganku. Sakit! Artinya ini bukan mimpi. Aku terperanjak dari tempat tidurku, melompat ke sudut kamar, dan mengigil di sana. Peluh dingin mengucur dan membasahi tubuhku. Kulihat sosok yang sama seperti di depan rumah itu sedang duduk membelakangiku di meja belajar. Tangan kirinya memegang sebuah pena. Ia sedang menulis di atas sesuatu. Astaga! Di atas halaman kosong buku yang kucari-cari tadi.

“Kaukah novelis yang meninggal misterius itu?” tanyaku dalam ketakutan yang menyeruak. Namun ia tidak menjawab, ia tetap menggerakan pena itu. Bau darah segar dan amis itu semakin menjadi. Aku semaki ketakutan dan sesak. Kucoba untuk bangkit membuka pintu dan keluar dari kamar ini lalu pergi sejauh-jauhnya. Namun itu hanya khayalanku semata. Ia berdiri lalu berbalik badan ke arahku kemudian menatapku dengan tatapan penuh benci. Aku tak mengerti dengan semua ini terlebih tatapan penuh kebencian itu. Aku sama sekali tak mengenalnya. Di tengah kekalutan itu, ia mendekatiku lalu mencekik leherku. Aku memberontak, namun percuma saja, aku tak mampu melawan. Nafasku sudah putus-putus.
“Aku akan sangat senang bila kau mati di tanganku. Hahahahaha….” ucapnya dengan keras. Dengan sisa tenagaku, kukepalkan tangan lalu kuayukan dan tepat mengenai pelipisnya. Dia roboh sembari mengerang kesakitan. Dengan sisa tenagaku ini aku mencoba bangkit, meraih gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Aku berjalan terseok-seok menuruni tangga. Kulihat Bik Nur sedang berdiri ke arahku. Bukan! Bukan! Itu buka Bik Nur, melainkan sesosok hantu wanita berpakaian serba putih. Kini aku bagai telur di ujung tanduk.
“Ya, Tuhan, tolonglah hambaMu ini!” pintaku. “Aku tak ingin mati muda.” Tambahku. Namun, memang nasibku sedang sial. Sosok yang mencekikku tadi kini sudah dibelakangku dan hantu wanita itu sedang menaiki tangga. Kupejamkan mataku, aku pasrah.
Tenagaku sudah habis dan aku tergeletak begitu saja di lantai. Aku merasakan tubuhku diseret menuju sebuah tempat yang panas, pengap, sesak, dan penuh bau darah yang amis. Sungguh menjijikan. Kudengar jelas kedua makhluk lain itu sedang bercakap-cakap. Yang mencekikku tadi ternyata adalah seseorang yang kukalahkan dalam sebuah kompetisi menulis saat itu. Ia telah membunuh 9 orang finalis termasuk dirinya sendiri, dan sekarang adalah giliranku. Aku sadar, inilah maksud halaman kosong di akhir buku tersebut. Ternyata ia bermaksud menuliskan kisah pembunuhan tragis terhadapku beserta 9 finalis lainnya termasuk dirinya.
Aku memaksa mataku untuk terbuka. Aku ingin melihat dunia untuk yang terakhir kalinya. Lalu sebuah benda menembus jantungku dan menghentikannya berdetak seketika. Kurasakan diriku melayang ke suatu tempat yang sejuk, pemandangannya indah. Di sana aku bertemu dengan 8 finalis lainnya. Mereka menyapaku dengan hangat seolah kami telah lama bersama. Inikah surga? Batinku.

“Dhera….” teriak seorang wanita dari halaman rumahku yang berhasil membuyarkan lamunanku.
“Dhera, anakku….” teriak seorang lelaki di belakangnya, kemudian mereka berdua berlari ke arahku. Aku berdiri bermaksud untuk menyambut mereka, tapi mereka tak berhenti di depanku, melainkan masuk ke dalam rumah. Kulihat mereka bersimpuh di depan tubuh seorang gadis sebayaku yang tengah beristirahat berbalut kain.
“Papa, Mama, aku di sini..!” teriakku. Namun mereka tak menoleh ke arahku, malah semakin menangisi jasad itu. Aku terheran-heran. Siapa gerangan jasad itu? Mengapa papa dan mama begitu terlihat kehilangan?
Aku kembali ke tempat dudukku, menikmati coklat hangat dan beberapa lembar roti tawar buatan Bik Nur ditimpali dengan sebuah surat kabar. Pagi yang indah.
Kubuka koran yang masih terlipat itu lalu kubaca halaman pertama.
“Novel berdarah karangan seorang novelis tenar yang belum lama ini meninggal secara misterius, dikabarkan kembali memakan korban. Dhera, seorang siswi SMA yang juga seorang penulis, ditemukan meregang nyawa di gudang rumahnya. Sebuah buku mirip novel berdarah ditemukan di samping jasad korban.” Usai membaca separagraf berita itu,
“Dhera…” seorang wanita cantik bersayap memanggilku. Mengulurkan tangannya kepadaku. Kugenggam tangan yang membawaku terbang ke langit biru itu.
“Selamat tinggal, Ma, Pa, aku akan sangat merindukan kalian.” Ucapku sambil melambaikan tangan.